Berguru dari Kearifan Lokal

Bersama Prof. Aminuddin Salle di Galeri Budaya ASCenter

Memanfaatkan waktu libur, saya menyempatkan diri menemui seorang tokoh pendidik, akademisi senior, sekaligus sebagai penggiat budaya, beliau adalah Prof. Aminuddin Salle di Kantor ASCenter Tamalanrea. Maksud menemui beliau selain silaturahim karena lama tak pernah bertemu, juga untuk “meminta petuah” sekaligus berguru kehidupan ke beliau. Saya tentu saja berterima kasih karena beliau dengan senang hati bisa menerima saya sekaligus memberi ruang untuk membicarakan berbagai hal. Dari diskusi singkat dengan beliau saya banyak memahami bahwa beliau memiliki kepedulian yang sangat besar bagi kegiatan-kegiatan yang bermuara pada keberdayaan komunitas-komunitas “marginal”, bahkan beliau sangat mendorong agar bisa dilahirkan ide-ide kreatif yang bersifat massif untuk menggerek naik kegiatan perekonomian di pedesaan.

Tulisan ini tidak akan membahas rancangan program-program yang diidekan beliau, tetapi lebih saya arahkan pada makna ikutan dari pertemuan kami tersebut. Pertemuan dan diskusi yang kami lakukan bersama beliau yang didampingi anaknya (Dr. Buyung Romadhoni) walaupun terbilang singkat tetapi benar-benar sarat makna. Ada frekuensi yang sama, kalau tidak dikatakan frekuensi saya yang di stel lebih aware untuk memahami banyak hal dari pesan-pesan Budaya Lokal kita. Salah satu dari sekian banyak petuah Makassar yang sarat makna yang disampaikan beliau seperti “Akkuta’nangko ri Tumangngasenga; Appilajara’ko ri Tucaraddeka; Appilangngeriko Kana Tau Toa; Nutanjeng Ri Alla Ta’ala” (Bertanyalah kepada orang yang tahu; Belajarlah kepada orang yang pintar/ahli; Mendengarlah petuah orang tua; Bertawakkallah kepada Allah SWT). 

Sepintas kalimat-kalimat tersebut biasa saja, bahkan mungkin banyak dari kita yang sudah pernah atau sering mendengarnya, akan tetapi jika diresapi lebih sadar maka akan kita temukan makna yang sangat dalam. Pesan ini sejatinya tidak hanya ditujukan kepada yang “tersesat” tetapi kepada siapa saja umat manusia yang hendak menyempurnakah ikhtiarnya dalam melakukan aktivitas kehidupannya di dunia ini, apalagi dalam kondisi dunia saat ini yang sudah semakin sekuler dan sedemikian rapuh dari nilai-nilai kearifan lokal karena tergerus oleh derasnya arus informasi yang semakin “menggila”.

Penulis tentu saja belum memiliki ilmu yang cukup untuk mengartikan makna tersirat dalam pesan-pesan tersebut, tetapi sebatas kemampuan pemahaman saya, ada beberapa hal yang kiranya patut kita pahamkan bersama, yaitu:

  1. Akkuta’nangko ri Tumangngasenga (Bertanyalah kepada orang yang tahu), memberi makna bahwa rendah dirilah dalam bersikap, karena kelahiran kita di dunia ini dari ketidaktahuan, sehingga kepada orang-orang berilmulah tempat kita untuk banyak bertanya, menggali informasi, dan mendudukkan masalah agar menjadi jelas dan tidak tersesat. Sejalan dengan hal ini, pesan ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Al-Qur’an “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahl Ayat 43)” dan “Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui (QS. Al-Anbiya Ayat 7)”.
  2. Appilajara’ko ri Tucaraddeka (Belajarlah kepada orang yang pintar/ahli). Sejatinya kita semua adalah “pembelajar”, tidak satupun orang yang bisa mengklaim dirinya paling ahli dalam segala hal, oleh karenanya menjadi arif jika kita terus belajar sepanjang hayat kita. Boleh jadi kita memiliki pengetahuan dan kecerdasan yang cukup untuk satu bidang tetapi kita menjadi lemah pada bidang lainnya, sehingga untuk urusan-urusan diluar keahlian kita, rendahkanlah diri untuk belajar kepada ahlinya. Apalagi dalam soal manajemen organisasi, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari – 6015).
  3. Appilangngeriko Kana Tau Toa (Mendengarlah petuah orang tua). Dalam adat kita, petuah orang tua adalah amanah, bahkan dalam ungkapan dikatakan “adat menjadi orang tua, wajib memberi petuah amanah”. “mendengar” tidak bisa dimaknai sekedar menangkap bunyi dengan telinga, tetapi lebih dalam dari itu, ‘mendengar” berarti taat dan patuh sepanjang pada tataran kebaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang kita anut. Bukankah dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan hal ini, sebutlah  QS. Al-Isra ayat 23-24, kemudian interaksi nasihat dan ketaatan anak kepada orang tua digambarkan secara apik dalam QS. Lukman ayat 12-19.
  4. Nutanjeng Ri Alla Ta’ala (Bertawakkallah kepada Allah SWT). Tawakkal dalam Wikipedia Indonesia berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, Tawakkal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan. Tawakkal atau penyerahan diri secara penuh tidak boleh dimaknai terpisah dengan usaha (ikhtiar) karena tawakkal sejatinya merupakan bagian dari usaha itu sendiri. Dalam Al-Qur’an salah satu ayat yang menjelaskan hal ini adalah “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Untaian kalimat dalam bentuk petuah atau pesan-pesan bijak dalam budaya Makassar seperti diuraikan sebelumnya, menunjukkan bahwa kalimat-kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan 4 (empat) kalimat yang harus utuh dan tidak dipisah-pisahkan, apalagi jika pengamalannya dipilah-pilah. Agar sampai pada pemaknaan yang arif, maka pesan-pesan tersebut harus dilihat sebagai satu kesatuan yang saling mendukung dan titik akhirnya adalah pada penyerahan diri secara sempurna kepada Takdir dan Iradhah Allah SWT sebagai penguasa seluruh alam yang maha berkehendak atas segala sesuatu. 

Simpulan utama yang bisa penulis utarakan adalah nilai-nilai luhur yang hidup dan mengakar di dalam budaya lokal masyarakat kita, sesungguhnya dapat dijadikan sebagai pengarah, lentera, sekaligus penanda jati diri yang “khas” karena hidup dan berkembang secara turun temurun di dalam masyarakat lokal itu sendiri, dan apabila dikaji lebih dalam nilai-nilai dalam pesan-pesan tersebut semuanya sejalan dan mengakar dari sumber Al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, di tengah arus informasi yang demikian pesat yang tanpa disadari telah menjadi “guru baru” dalam ruang-ruang bermasyarakat kita, maka selayaknya jika terus diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan upaya melestarikannya sejatinya harus mendapat dukungan dari kita semua. Terima kasih pembelajarannya Prof. Aminuddn Salle, Sukses dan berkarya terus. Wallahu A’lam Bishawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *