“8000 Pengangguran” Baru: Catatan Kecil Atas Kebijakan Peningkatan Kinerja ASN Takalar

http://moneter.co.id/

Masyarakat Takalar seketika tersentak, kaget bukan kepalang, bahkan lahir sekian banyak kecaman dan reaksi demonstrasi sekelompok elemen masyarakat. Apa pasalnya?, “Surat  Edaran”, ya akibat selembar surat edaran tertanggal 22 Januari 2018 yang ditandatangani langsung oleh Bupati Takalar yang isinya “manis” pada satu kelompok, tapi “pahit” bagi segerombolan yang lain. Manis bagi kelompok PNS karena tujuan surat edaran dimaksud adalah untuk pemberian Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP), tetapi terasa pahit bagi sekitar “8000” tenaga honorer yang harus menelan kekecewaan teramat dalam bahkan mungkin menyakitkan akibat harus “dirumahkan” kalau tidak ingin disebut “dipecat” massal.

Ditinjau dari sisi tujuan yang ingin dicapai, tampaknya kebijakan ini tepat adanya, karena beberapa poin yang menjadi pertimbangan dari surat edaran Bupati Takalar, yaitu: (1) untuk meningkatkan kesejahteraan ASN melalui pemberian TPP, (2) untuk meningkatkan kualitas kerja ASN dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat, dan (3) banyaknya tenaga honorer daerah yang dipekerjakan sehingga mengakibatkan kinerja ASN kurang efektif. Namun demikian, kebijakan ini bisa dinilai tidak abai terhadap sisi kemanusiaan dan terkesan dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak yang bisa ditimbulkan termasuk tidak matang untuk menyiapkan kerangka program solutif bagi tenaga honorer yang seketika harus kehilangan pekerjaan yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun. Continue reading ““8000 Pengangguran” Baru: Catatan Kecil Atas Kebijakan Peningkatan Kinerja ASN Takalar”

Berguru dari Kearifan Lokal

Bersama Prof. Aminuddin Salle di Galeri Budaya ASCenter

Memanfaatkan waktu libur, saya menyempatkan diri menemui seorang tokoh pendidik, akademisi senior, sekaligus sebagai penggiat budaya, beliau adalah Prof. Aminuddin Salle di Kantor ASCenter Tamalanrea. Maksud menemui beliau selain silaturahim karena lama tak pernah bertemu, juga untuk “meminta petuah” sekaligus berguru kehidupan ke beliau. Saya tentu saja berterima kasih karena beliau dengan senang hati bisa menerima saya sekaligus memberi ruang untuk membicarakan berbagai hal. Dari diskusi singkat dengan beliau saya banyak memahami bahwa beliau memiliki kepedulian yang sangat besar bagi kegiatan-kegiatan yang bermuara pada keberdayaan komunitas-komunitas “marginal”, bahkan beliau sangat mendorong agar bisa dilahirkan ide-ide kreatif yang bersifat massif untuk menggerek naik kegiatan perekonomian di pedesaan.

Tulisan ini tidak akan membahas rancangan program-program yang diidekan beliau, tetapi lebih saya arahkan pada makna ikutan dari pertemuan kami tersebut. Pertemuan dan diskusi yang kami lakukan bersama beliau yang didampingi anaknya (Dr. Buyung Romadhoni) walaupun terbilang singkat tetapi benar-benar sarat makna. Ada frekuensi yang sama, kalau tidak dikatakan frekuensi saya yang di stel lebih aware untuk memahami banyak hal dari pesan-pesan Budaya Lokal kita. Salah satu dari sekian banyak petuah Makassar yang sarat makna yang disampaikan beliau seperti “Akkuta’nangko ri Tumangngasenga; Appilajara’ko ri Tucaraddeka; Appilangngeriko Kana Tau Toa; Nutanjeng Ri Alla Ta’ala” (Bertanyalah kepada orang yang tahu; Belajarlah kepada orang yang pintar/ahli; Mendengarlah petuah orang tua; Bertawakkallah kepada Allah SWT). 

Sepintas kalimat-kalimat tersebut biasa saja, bahkan mungkin banyak dari kita yang sudah pernah atau sering mendengarnya, akan tetapi jika diresapi lebih sadar maka akan kita temukan makna yang sangat dalam. Pesan ini sejatinya tidak hanya ditujukan kepada yang “tersesat” tetapi kepada siapa saja umat manusia yang hendak menyempurnakah ikhtiarnya dalam melakukan aktivitas kehidupannya di dunia ini, apalagi dalam kondisi dunia saat ini yang sudah semakin sekuler dan sedemikian rapuh dari nilai-nilai kearifan lokal karena tergerus oleh derasnya arus informasi yang semakin “menggila”.

Penulis tentu saja belum memiliki ilmu yang cukup untuk mengartikan makna tersirat dalam pesan-pesan tersebut, tetapi sebatas kemampuan pemahaman saya, ada beberapa hal yang kiranya patut kita pahamkan bersama, yaitu:

  1. Akkuta’nangko ri Tumangngasenga (Bertanyalah kepada orang yang tahu), memberi makna bahwa rendah dirilah dalam bersikap, karena kelahiran kita di dunia ini dari ketidaktahuan, sehingga kepada orang-orang berilmulah tempat kita untuk banyak bertanya, menggali informasi, dan mendudukkan masalah agar menjadi jelas dan tidak tersesat. Sejalan dengan hal ini, pesan ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Al-Qur’an “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahl Ayat 43)” dan “Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui (QS. Al-Anbiya Ayat 7)”.
  2. Appilajara’ko ri Tucaraddeka (Belajarlah kepada orang yang pintar/ahli). Sejatinya kita semua adalah “pembelajar”, tidak satupun orang yang bisa mengklaim dirinya paling ahli dalam segala hal, oleh karenanya menjadi arif jika kita terus belajar sepanjang hayat kita. Boleh jadi kita memiliki pengetahuan dan kecerdasan yang cukup untuk satu bidang tetapi kita menjadi lemah pada bidang lainnya, sehingga untuk urusan-urusan diluar keahlian kita, rendahkanlah diri untuk belajar kepada ahlinya. Apalagi dalam soal manajemen organisasi, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari – 6015).
  3. Appilangngeriko Kana Tau Toa (Mendengarlah petuah orang tua). Dalam adat kita, petuah orang tua adalah amanah, bahkan dalam ungkapan dikatakan “adat menjadi orang tua, wajib memberi petuah amanah”. “mendengar” tidak bisa dimaknai sekedar menangkap bunyi dengan telinga, tetapi lebih dalam dari itu, ‘mendengar” berarti taat dan patuh sepanjang pada tataran kebaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang kita anut. Bukankah dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan hal ini, sebutlah  QS. Al-Isra ayat 23-24, kemudian interaksi nasihat dan ketaatan anak kepada orang tua digambarkan secara apik dalam QS. Lukman ayat 12-19.
  4. Nutanjeng Ri Alla Ta’ala (Bertawakkallah kepada Allah SWT). Tawakkal dalam Wikipedia Indonesia berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, Tawakkal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan. Tawakkal atau penyerahan diri secara penuh tidak boleh dimaknai terpisah dengan usaha (ikhtiar) karena tawakkal sejatinya merupakan bagian dari usaha itu sendiri. Dalam Al-Qur’an salah satu ayat yang menjelaskan hal ini adalah “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Untaian kalimat dalam bentuk petuah atau pesan-pesan bijak dalam budaya Makassar seperti diuraikan sebelumnya, menunjukkan bahwa kalimat-kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan 4 (empat) kalimat yang harus utuh dan tidak dipisah-pisahkan, apalagi jika pengamalannya dipilah-pilah. Agar sampai pada pemaknaan yang arif, maka pesan-pesan tersebut harus dilihat sebagai satu kesatuan yang saling mendukung dan titik akhirnya adalah pada penyerahan diri secara sempurna kepada Takdir dan Iradhah Allah SWT sebagai penguasa seluruh alam yang maha berkehendak atas segala sesuatu. 

Simpulan utama yang bisa penulis utarakan adalah nilai-nilai luhur yang hidup dan mengakar di dalam budaya lokal masyarakat kita, sesungguhnya dapat dijadikan sebagai pengarah, lentera, sekaligus penanda jati diri yang “khas” karena hidup dan berkembang secara turun temurun di dalam masyarakat lokal itu sendiri, dan apabila dikaji lebih dalam nilai-nilai dalam pesan-pesan tersebut semuanya sejalan dan mengakar dari sumber Al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, di tengah arus informasi yang demikian pesat yang tanpa disadari telah menjadi “guru baru” dalam ruang-ruang bermasyarakat kita, maka selayaknya jika terus diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan upaya melestarikannya sejatinya harus mendapat dukungan dari kita semua. Terima kasih pembelajarannya Prof. Aminuddn Salle, Sukses dan berkarya terus. Wallahu A’lam Bishawab

Coaching Wirausaha, Solusi Kreatif Mengoptimalkan Potensi Personal Mahasiswa

Kerjasama pengembangan wirausahawan muda yang dilakukan oleh Pemerintah Canada melalui Humber Business School dengan menggandeng 7 (tujuh) perguruan tinggi di Sulawesi yang dielaborasi dalam tajuk “Sulawesi Economic Development Strategy Project” -SEDS Project- sudah sampai pada tahapan akhir dari 5 (lima) tahun kerjasama yang disepakati. Workshop #6 tentang Coaching and Mentoring menjadi penanda bahwa proyek akan segera berakhir. Di sesi workshop kali ini, keterampilan peserta semakin dilecutkan dengan membekali kemampuan untuk melakukan coaching. Materinya tidak teoritis, tetapi langsung melakukan praktik riil dengan menghadirkan coachee dari kalangan mahasiswa yang sementara merintis bisnis.

 

Fasilitator yang dihadirkan dalam workshop kali ini adalah Mas Ibnu Wahid, Akademisi UGM dan Coach yang aktif membina pelaku UMKM. Selama 5 (hari) kami semua benar-benar digembleng agar dapat melakukan praktik coaching secara profesional melalui metode Neuro Linguistic Programming (NLP). Dikutip dari http://www.bisniscoaching.com “Secara umum coaching adalah program kemitraan antara coach (yang memberikan materi coaching) dengan audience, agar klien terinspirasi untuk memaksimalkan potensi dalam dirinya. Dalam hal ini, coach menghargai kliennya sebagai orang yang ahli dalam suatu bidang kehidupan dan pekerjaannya”. Menyimak definisi tersebut, tugas seorang coach tentu tidaklah mudah, karena kesuksesannya tidak hanya bertumpu pada kemampuan seorang coach tetapi penerimaan atau kesediaan seorang coachee untuk konsisten dan sadar untuk menjalankan kesepakatan yang telah dibuat saat sesi coaching. Menjadi sedikit sulit karena kemampuan coach dilihat dari kesanggupannya menginspirasi coachee agar potensinya bisa melejit. Paling tidak ada tiga tanggung jawab seorang Coach, meliputi (1) Membantu individu untuk tumbuh dan memaksimalkan potensinya; (2) Membantu individu serta tim untuk menemukan solusi dan menentukan starteginya sendiri dari tantangan yang dihadapinya; dan (3) Memotivasi individu untuk melakukan aksi dalam upaya melahirkan perubahan nyata

Oleh karena itu, saling percaya harus tumbuh secara timbal balik. Coach percaya dan meyakini kemampuan coachee nya dan coachee yakin dengan keterampilan coach nya.

 

Membangkitkan Peran LKM Berbasis Syariah

Penulis bersama Faidul Adzim dalam acara Indonesia Shari’a Economic Festival

Rangkaian acara ISEF 2017 di Surabaya diisi dengan berbagai acara, satu di antaranya adalah Seminar Nasional Membangkitkan Peran Lembaga Keuangan Mikro berbasis syariah dalam pemberdayaan ekonomi umat. Seminar yang menghadirkan tiga orang Nara sumber secara mendalam mengupas tentang perkembangan ekonomi syariah di Indonesia.

LKM Syariah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat di lingkungan pesantren. Karakteristik utama lembaga ini adalah adanya pendampingan dan pendekatan kelompok serta tidak menghimpun dana dari masyarakat. Oleh karena itu, dalam kegiatan ISEF 2017 di Surabaya Kegiatan ISEF 2017 didahului oleh Festival Syariah (Fesyar) yang dilaksanakan di 3 (tiga) wilayah utama ekonomi syariah lainnya. Fesyar ke-I dilaksanakan di Makassar pada tanggal 25-27 Agustus 2017, dengan tema “Peran Islamic Social Finance Dalam Pemberdayaan Ekonomi”. Mengangkat tema “Mewujudkan Jawa sebagai Poros Pemberdayaan Ekonomi Syariah Nasional”, Fesyar ke-II dilaksanakan di Bandung pada anggal 13-15 September 2017. Sementara Fesyar ke-III dilaksanakan di Medan tanggal 6–8 Oktober 2017, mengusung tema “Membangun Ekonomi Syariah Berlandaskan Konektivitas Regional” .

Potensi berkembangnya lembaga keuangan syariah di Indonesia sangat prospektif, mengingat Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia sehingga potensi pasarnya tentu besar. Fakta lainnya adalah Indonesia merupakan negara dengan institusi keuangan syariah paling banyak. Berdasar data LPS, saat ini Indonesia memiliki 13 Bank Umum Syariah (BUS), 21 Unit Usaha Syariah (UUS), 167 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), 58 Asuransi Syariah, 7 modal ventura syariah dan lebih dari lima ribu lembaga keuangan mikro syariah. Sedangkan dari sisi nasabah, di Indonesia saat ini jumlah nasabah total sekitar 23 juta atau hampir setara total populasi masyarakat Malaysia. Meski size-nya memang terlihat besar, namun jika dibandingkan dengan total populasi Indonesia, itu merupakan porsi yang masih cukup kecil.

Oleh karena itu, yang masih butuh dilakukan ke depan adalah memperkuat kelembagaan lembaga-lembaga keuangan berbasis syariah di Indonesia. Sebagai tahap awal, pengembangannya dapat menyasar komunitas pesantren dulu, selanjutnya bisa diarahkan agar ormas-ormas keagamaan juga ikut memberi support bagi tumbuhnya LKM-LKM Syariah di institusi masing-masing.

Ketinggalan Pesawat

Suporter PSM berduka, jalan-jalan Makassar diselimuti kekecewaan lantaran tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan takluk dari tim tamu Bali United. Semua kecewa karena mimpi menjadi liga tahun ini buyar sudah.

Saya sedih bukan soal PSM Kalah sebab fokus saya tidak ke pertandingan bola itu. Tahu tidak, ketinggalan pesawat itu justru lebih menyakitkan dibanding fakta bahwa PSM dipermalukan di kandang sendiri.

Untuk kedua kalinya saya mengalami gagal terbang di bandara Hasanuddin. Pesawat yang akan saya tumpangi hari ini memilih meninggalkan kami. Kecewa, sedih, bingung, bercampur sedikit kesal. Bayangkan saja, sejam sebelum boarding saya sudah ada di ruang tunggu tapi 15 menit tidak awas membuat perjalanan saya ke Surabaya harus tertunda.

Untungnya saya tidak sendiri dalam perjalanan kali ini, ada Pak Faidul turut serta sehingga walaupun ada rasa kecewa dan kesal tetapi tetap bisa berbagi senyum kecut.

Tujuan ke Surabaya kali ini adalah memenuhi undangan Bank Indonesia untuk rangkaian acara Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2017 yang akan berlangsung dari tanggal 7 November 2017 sampai 11 November 2017.

Kado Milad 104 Tahun Muhammadiyah

Oleh: Mukhaer Pakkanna

Muhammadiyah lahir 104 tahun yang lalu, tepatnya 8 Zulhijjah 1330 H atau 18 November 1912. Menyetir keterangan Kiai Syudja, murid Kiai Ahmad Dahlan, bahwa ide inti pendirian Muhammadiyah merujuk pada QS. Al Anfal; 24, `Wahai orang-orang beriman, sambutlah panggilan Allah dan Rasul-Nya apabila kamu telah dipanggil kepada apa yang dapat menghidupkan kamu …`.
Apa makna diktum dari pesan ayat tersebut? Kiai Dahlan menafsirkan, Islam sebagai agama rahmat lil `alamin bukan sekadar agama pemuas spritualitas, bukan sebagai kumpulan ajaran ritual, tapi Islam adalah agama amalan, agama praxis. Karena itu, Islam harus kompatibel dengan modernitas. Islam harus aktual dalam proses perubahan. Dengan demikian, ajaran Islam menurut Muhammadiyah harus senantiasa ditafsir ulang sesuai perubahan. Continue reading “Kado Milad 104 Tahun Muhammadiyah”

UBC, Saatnya “Move On”

image
Peserta Workshop Foto Bersama Fasilitator (Ibnu Wahid), PC (Rahman Rahim), Konsultan SEDS (Budi Sarjana)

Pada 15 Februari 2016 saya membaca sebuah laporan yang ditulis di Harian Fajar dengan judul yang membuat saya tiba-tiba terinspirasi. “Rp 13 M untuk Wirausaha Baru”, begitu judul berita dibaca. Dalam tulisan tersebut disebutkan penuturan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Sulsel, Syamsul Alam Ibrahim yang menyatakan anggaran tersebut difokuskan untuk program pelatihan. Rp 13 m untuk melatih wirausaha baru dan/Rp 3,5 m untuk pelatihan pengelola koperasi. Program Wirausaha baru ini direncanakan berbasis desa dengan target ada penambahan jumlah wirausaha baru sekira 3000 tiap tahun.

Continue reading “UBC, Saatnya “Move On””

BUM Desa, Membangun Wirausaha dari Desa

ismailtklarweb 

Ket. Foto: Penulis berdiskusi ringan dengan kawan penggiat desa di Takalar

 

Tulisan ini diinspirasi oleh fenomena yang diceritakan oleh salah seorang kepala desa teman saya di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan, tempat kelahiran saya. Beliau menceritakan bahwa BUMDes di desanya belum berjalan karena bingung usaha apa yang cocok dan bisa produktif, padahal sudah ada modal yang disisihkan dari dana Anggaran Dana Desa (ADD), menurut kawan saya ini, hal ini umumnya dialami pula oleh kepala desa yang lain di Kabupaten Takalar. BUMDes atau Badan Usaha Milik Desa, yang saya tahu telah muncul sinyal kelahirannya sejak di undangkannya UU No. 22 Tahun 2002 kemudian dipertegas kembali dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Selanjutnya semakin nyata kemunculannya sejak diundangkannya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan lebih spesifik lagi diatur melalui Peraturan Menteri Desa, Pembagunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015.

Continue reading “BUM Desa, Membangun Wirausaha dari Desa”

Pesona Kebun Raya Massenrempulu Enrekang

enrekang-1Selasa, 9 Pebruari 2016 saya mendampingi mahasiswa untuk studi lapang perencanaan pembangunan di Kabupaten Enrekang. Tempat yang kami kunjungi adalah Kebun Raya Massenrempulu Enrekang (KRME), suatu kawasan dengan luasan 300 hektar di wilayah Kecamatan Maiwa sekitar 25 km sebelum Kota Enrekang. Jujur, kami baru tahu jika di Enrekang ada juga kebun raya yang ternyata pengelolaannya banyak belajar dari Kebun Raya Bogor. Walaupun rencana awalnya kami akan berkunjung ke pusat pengembangan sutra alam di Enrekang tapi begitu makassar mengetahui ada kebun raya, kami lalu putuskan untuk ke tempat itu.

Continue reading “Pesona Kebun Raya Massenrempulu Enrekang”

Bisnis Center Unismuh: Asa, Sumber Pendanaan Baru

ubc.Bisnis center dalam pengertian umum adalah sebuah pusat bisnis dalam bidang perdagangan barang dan jasa, jika itu tempatnya di perguruan tinggi berarti menyatu dalam kendali organisasi perguruan tinggi bersangkutan. Pengintegrasian kegiatan bisnis dengan pengelolaan pendidikan di dalam satu atap, diilhami oleh kenyataan bahwa sangat tidak mungkin pengelolaan pendidikan tinggi hanya mengandalkan sumber pendanaan dari mahasiswa. Bagi kampus swasta, tentu saja hal ini akan memberatkan, karena di satu sisi pengelolaan pendidikan tinggi sejantinya tidak berorientasi profit tapi lebih ke aspek sosial namun di sisi yang lain ada tuntutan peningkatan kualitas yang konsekuensinya membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

Continue reading “Bisnis Center Unismuh: Asa, Sumber Pendanaan Baru”